Kamis, 28 November 2013




MAKALAH KAPITA SELEKTA
HUJAN BUATAN (TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA)















OLEH :

WISMA DIAMA PUTRA
55172/2010











                                             JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
                                                               Kata pengantar


     Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PROSES TERBENTUKNYA HUJAN BUATAN”.Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas perkuliahan Kapita selekta.Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.


                                                           















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

          Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan,yg serta benda-benda lain yang mengandung air. Air-air tersebut umum nya   mengalami     proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal. Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (prosespresipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian ujan dapat menguap kembali ke udara. Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.Keadaan suhu di bumi sekarang ini semakin hari semakin panas kita rasakan. Suhu pun tidak stabil. Cuaca yang tidak menentu membuat kehidupan di muka bumi ini terancam.dengan terjadinya proses hujan buatan .membuat udara sedikit lebih meyegarkan.
                                                                                  
B.     Rumusan masalah

            Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah, diantaranya :
1.      Apa saja kendala dalam pelasanaan pelaksanaan hujan buatan
2.      bagaimana terhadap hasil pelaksanaan hujan buatan
3.      apa saja manfaat hujan buatan
4.      dampak hujan buatan terhadap lingkungan

                                                                    
                                                              









    
BAB II
          PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN HUJAN

 Hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Hujan juga merupakan siklus air di bumi dan Proses terjadinya dan turunnya hujan dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Mula - mula sinar matahari menyinari bumi, energi sinar matahari ini mengakibatkan terjadinya  evaporasi atau penguapan di lautan, samudra, sungai, danau, dan sumber - sumber air lainnya.
·         Uap - uap air yang naik ini pada ketinggian tertentu akan mengalami kondensasi. Peristiwa kondensasi ini diakibatkan oleh suhu sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun uap air.
·         Uap - uap air ini kemudian akan membentuk awan. Kemudian, angin (yang terjadi karena perbedaan tekanan udara) akan membawa butir - butir air in
·         Butir - butir air ini menggabungkan diri (proses ini dinamakan koalensi) dan semakin membesar akibat   turbelensi udara, butir - butir air ini akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi sehingga akan jatuh ke permukaan bumi.
·         Saat jatuh ke permukaan bumi, butir - butir air akan melewati lapisan yang lebih hangat di di bawahnya sehingga butir - butir air sebagian kecil menguap lagi ke atas dan sebagian lainnya jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.
Inilah yang dinamakan hujan.

B.     PENGERTIAN HUJAN BUATAN
Hujan buatan adalah hujan yang dibuat oleh campur tangan manusia dengan membuat hujan dari bibit-bibit awan yang memiliki kandungan air yang cukup, memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya. Ujan buatan dibuat dengan menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur bibit / seeding ke awan agar mempercepat terbentuknya awan jenuh. Untuk menyemai / membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke awan potensial selama 30 hari. Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat yang salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.juhan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau kering, tanah retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain sebagainya.
Dengan adanya hujan buatan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup bahagia dan sejahtera.Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan. Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.Media yang bisa ditempeli uap air contohnya partikel garam di atas lautan yang bisa menyerap uap air sehingga membentuk kumpulan yang besar. Asap juga bisa sebagai media untuk berkumpulnya uap air. Bibit hujan ini akan bergerak sesuai dengan tiupan angin.
C.    SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN DIDUNIA
Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.Yang sebenarnya dilakukan oleh manusia adalah menciptakan peluang hujan dan “mempercepat” terjadinya hujan. Nama yang digunakan sebagai upaya “membuat hujan” dengan menggunakan cara siklus hidrologi, ada penguapan air, pembentukan awan, dan turun menjadi hujan. Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan.

D.    SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN DI INDONESIA

      Kegiatan hujan buatan di Indonesia atau lebih dikenal dengan modifikasi cuaca dikaji dan diuji di Indonesia pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan presiden soeharto yang di fasilitaskan oleh Frof.Dr.ing.BJ Habibie melalui advance teknologi sebagai embrio badan pengkajian dan penerapan teknologi dibawah eksistensi Frof Devaku dari royal rainmaking Thailand
Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama unit pelayanan teknis hujan buatan (UPT HB) berdasarkan surat keputusan menteri Negara riset dan teknologi/kepala badan pengkajian teknologi NO: SK/342/KA/BPPT/XII/1985 fungsinya adalah memberikan pelayanan dalam hal meningkatkan intesitas curah hujan sebagai upaya pemerinta dalam menjaga ketersediaan air pada waduk yang befungsi sebagai sumber daya air dan untuk irigas dan PLTA.
    E.CARA MEMBUAT HUJAN BUATAN     

      Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi. Awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu(a). Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; (b).Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin  terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu. (c).Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.
       Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam awan.
Di Indonesia, sejak tahun 1998 BPPT dan PT. INCO bekerja sama dengan perusahaan dari Amerika memakai metode penyemain awan dengan teknologi flare perak iodida.Dengan teknologi ini, pesawat yang dibutuhkan untuk menemai awan tidak perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi dengan 24 tabung flare perak iodida yang di pasang di sayap pesawat terbang dan bak peluncur roket.
Setelah posisi awan, arah dan keepatan angin diketahui pesawat pun menuju awan potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan mematik listrik otomatis dari kokpit pesawat. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.
Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu:
1.      Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI)
2.      Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.

                                                                      
                                                                                
proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik.   Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
a)      perubahan siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau, bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
b)      bisa terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa wilayah.  Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
c)      gangguan penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
d)     gangguan data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi ketersediaan air,
e)      gangguan ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) juga bisa terganggu.  Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca segera dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah akan terjadi keseimbangan alam.
f)       dan banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
g)      tidak terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global



F.Proses Pembentukan Awan

Udara di sekeliling kita banyak mengandung uap air. Tidak terhitung banyaknya gelembung udara yang terbentuk oleh busa laut secara terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air terangkat ke langit. Partikel-partikel yang disebut dengan aerosol inilah yang berfungsi sebagai perangkap air dan selanjutnya akan membentuk titik-titik air. Selanjutnya aerosol ini naik ke atmosfer, dan bila sejumlah besar udara terangkat ke lapisan yang lebih tinggi, maka ia akan mengalami pendinginan dan selanjutnya mengembun. Kumpulan titik-titik air hasil dari uap air dalam udara yang mengembun inilah yang terlihat sebagai awan. Makin banyak udara yang mengembun, makin besar awan yang terbentuk.

Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi. Secara lebih rinci awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu: Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu. Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan


G. Awan Dingin dan Awan Hangat

Berdasarkan suhu lingkungan fisik atmosfer dimana awan tersebut berkembang, awan dibedakan atas awan dingin (cold cloud) dan awan hangat (warm cloud). Terminologi awan dingin diberikan untuk awan yang semua bagiannya berada pada lingkungan atmosfer dengan suhu di bawah titik beku (< 00C), sedangkan awan hangat adalah awan yang semua bagiannya berada diatas titik beku ( > 00C).

Awan dingin kebanyakan adalah awan yang berada pada daerah lintang menengah dan tinggi, dimana suhu udara dekat permukaan tanah saja bisa mencapai nilai <00C. Di daerah tropis seperti halnya di Indonesia, suhu udara dekat permukaan tanah sekitar 20-300C, dasar awan mempunyai suhu sekitar 180C. Namun demikian puncak awan dapat menembus jauh ke atas melampaui titik beku, sehingga sebagian awan merupakan awan hangat, sebagian lagi diatasnya merupakan awan dingin. Awan semacam ini disebut awan campuran (mixed cloud).



 

  H. Proses Terjadinya Hujan Pada Awan Dingin

Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.

Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.

Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.

  I.  Proses Terjadinya Hujan Pada Awan Hangat


Ketika uap air terangkat naik ke atmosfer, baik oleh aktivitas konveksi ataupun oleh proses orografis (karena adanya halangan gunung atau bukit), maka pada level tertentu partikel aerosol (berukuran 0,01 - 0,1 mikron) yang banyak beterbangan di udara akan berfungsi sebagai inti kondensasi (condensation nucleus) yang menyebabkan uap air tersebut mengalami pengembunan.Sumber utama inti kondensasi adalah garam yang berasal dari golakan air laut. Karena bersifat higroskofik maka sejak berlangsungnya kondensasi, partikel berubah menjadi tetes cair (droplets) dan kumpulan dari banyak droplets membentuk awan. Partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu menebal, sehingga titik-titik tersebut menjadi lebih berat dari udara, mulai jatuh dari awan sebagai hujan.

Jika diantara partikel terdapat partikel besar (Giant Nuclei : GN : 0,1 - 5 mikron) maka ketika kebanyakan partikel dalam awan baru mencapai sekitar 30 mikron, ia sudah mencapai ukuran sekitar 40 - 50 mikron. Dalam gerak turun ia akan lebih cepat dari yang lainnya sehingga bertindak sebagai kolektor karena sepanjang lintasannya ke bawah ia menumbuk tetes lain yang lebih kecil, bergabung dan jauh menjadi lebih besar lagi (proses tumbukan dan penggabungan). Proses ini berlangsung berulang-ulang dan merambat keseluruh bagian awan. Bila dalam awan terdapat cukup banyak GN maka proses berlangsung secara autokonversi atau reaksi berangkai (Langmuir Chain Reaction) di seluruh awan, dan dimulailah proses hujan dalam awan tersebut, secara fisik terlihat dasar awan menjadi lebih gelap. Hujan turun dari awan bila melalui proses tumbukan dan penggabungan, droplets dapat berkembang menjadi tetes hujan berukuran 1.000 mikron atau lebih besar. Pada keadaan tertentu partikel-partikel dengan spektrum GN tidak tersedia, sehingga proses hujan tidak dapat berlangsung atau dimulai, karena proses tumbukan dan penggabungan tidak terjadi. .

   














                                            BABIII
                                        PENUTUP

A.    KESIMPULAN

  Proses hujan buatan menyebabkan kenaikan suhu bumi – sehingga mempengaruhi iklim secara global.Hujan buatan juga menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya yang menyebabkan kerugian pada manusia dan makhluk hidup lainnya.seperti :
• Pemanasan global
      • Kekeringan terhadap tanaman ,dll




B.     SARAN
       akhiri hujan buatan karena dalam rangka proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik.   Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
1)      perubahan siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau, bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
2)      bisa terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa wilayah.  Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
3)      gangguan penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
4)      gangguan data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi ketersediaan air,
5)      gangguan ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) juga bisa terganggu.  Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca segera dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah akan terjadi keseimbangan alam.
6)      dan banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
7)      tidak terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global

















DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Laporan Evaluasi Kegiatan  Penyemaian Awan/Modifikasi Cuaca di Atas
DAS Riam Kanan Kalimantan Selatan
Tanggal 08 Oktober hingga. 06 Nopember 1999. Kerja sama antara PT.PLN WilayahVI dengan UPT Hujan Buatan BPP Teknologi. Jakarta:
UPT Hujan Buatan BPP Teknologi.Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air.Yogyakarta: BPFE UGM.
Reksohadiprodjo, S.,Purnomo Brodjonegoro, AB,1989. Ekonomi Lingkungan, Suatu
Pengantar. Yogyakarta: BPFE UGM.

























Senin, 26 November 2012

                                         PEMBANGUNAN SEKTORAL
                                        
                                                                                     OLEH;WISMA DIAMA PUTRA

Pengertian Sektor
• Kumpulan dari kegiatan-kegiatan atau
program yang mempunyai persamaan
atau ciri serta tujuannya (Kunarjo, 2002)
• Komponen-komponen dalam struktur
perekonomian
3/1/2008
2
Premis Perencanaan/
Pembangunan Sektoral
• Perumusaan keadaan pembangunan sektoral
yang dapat memberikan gambaran mengenai
eksistensi dan peranan sektor pembangunan
tertentu menjadi leading sektor bagi
pembangunan sektor lainnya dan sektor yang
menjadi skala prioritas
• Memproyeksikan sasaran pembangunan sektor
dalam rencana sasaran pendapatan nasional
yang sudah ditentukan
Kelebihan Pembangunan Sektoral
1. Lebih mudah dilakukan, karena:
• Berkaitan dengan tanggung jawab badan/instansi
pemerintah
• Melalui struktur hirarki normal
2. Peluang investasi lebih besar, karena:
• Tanggung jawab persiapan implementasi rencana
dilakukan instansi yang sama
• Model-model ekonomi berdasarkan sektor cukup banyak
• Sarana untuk mendorong penggunaan sumberdaya
yang efektif
• Tidak menyebabkan terganggunya stabilitas sosial dan
keamanan suatu bangsa
3/1/2008
3
Kelemahan PS
• Inefisiensi penggunaan sumberdaya antar
instansi
• Menghalangi (discourages) dan
mempersulit perencanaan proyek dan
program yg melibatkan lebih dari satu
intansi/sektor
• Adanya konflik dan duplikasi
program/proyek
Syarat Penentuan Skala Prioritas
dalam PS
• Didasarkan pada hasil pembangunan sektoral
sebelumnya dan menjadi titik tolak program
berikutnya
• Didasarkan pada kenyataan obyektif daerah
seperti kebutuhan, potensi, keterbatasan,
kemampuan, kemudahan, dan karakteristik
daerah
• Dapat dirumuskan secara kuantitatif dan nyata,
sehingga mudah diukur namun tetap sederhana
dan jelas
3/1/2008
4
Masalah Organisasi dan Metode
dalam PS
Kualitas perencanaan seringkali tidak
diperhatikan, karena:
• Lebih banyak memperhatikan aspek
administrasi rutin dan aspek tak terduga,
sehingga perencanaan dibuat secara tidak
sistematis, terutama untuk rencana jangka
menengah dan panjang
• Menggunakan metode tertentu yang tidak
sejalan dengan unit lain, sehingga rencana
dianggap tidak realistik
Konsekuensi Masalah Organisasi
dan Metode dalam PS
• Perencanaan cenderung “short-sighted” and
unambitious” yang didasarkan atas perkiraan
pengalaman administarsi sebelumnya, bukan
atas hasil pengumpulan dan analisis data. Over
ambitious juga tidak dierima oleh pelaksana
• Ada kecendurungan pemecahan masalah hanya
dapat dilakukan dengan cara yang sudah biasa
dilakukan (existing way)
• Perkiraan biaya tahunan didasarkan atas
perkiraan penerimaan dana tahun lalu, bukan
berdasarkan optimalisasi biaya untuk mencapai
tujuan tertentu
3/1/2008
5
Cara Mengatasi Masalah dalam PS
• Diperlukan kordinasi antar instansi, agar
perencanaan yang dibuat dapat sejalan dengan
perencanaan sektor/intansi lainnya
• Dibutuhkan badan kordinasi: Bappenas di
tingkat nasional dan pembentukan are based
planning (Mis, KTI)
• Perlu dibentuk suatu unit perencana khusus
dengan full time qualified planners di dalam
badan atau intansi.
PS Pokok dan Derivasinya
• PP sektor Infrastruktur
• PP sektor Pendidikan
• PP sektor industri
• PP sektor Pertanian
3/1/2008
6
Pembangunan Sektoral
Infrastruktur
• Merupakan kebutuhan publik (public
goods)
• Pemerintan merupakan pihak yang
dominan dalam penyediaan, namun
karena keterbatasan, swasta diharapkan
berperan
Pentingnya Pembangunan
Infrastruktur
• Sumber pertumbuhan ekonomi (Hub antara IS
dan Peningkatan GDP)
• Persaingan infrastruktur, kualitas seperti
telekomuniasi, air, energi untuk kepentingan
perekonomian
• Quality of life, ketidakmerataan IS akan
menyebabkan IPM dan pertumbuhan GDP yang
rendah
• Sharing risk and responsilibity antar daerah
(Hickman, 1995), sehingga diperlukan
kerjasama daerah yang menghasilkan positif
eksternalitas
3/1/2008
7
Tiga Hal IS menjadi penting
• Pencapaian skala ekonomi , sehingga
efisiensi dapat dicapai
• Memberikan positif eksternalitas pada
daerah sekitarnya
• Merupakan merit good yang melayani
penduduk dalam skala besar. Misl. Setiap
daerah memiliki pembangkit tenaga listrik,
tidak efisien
Kerjasama antar Daerah dalam IS
• Kerjasama dalam perencanaan, disain, hingga
implementasi dengan memelihara sumberdaya
alam dan lingkungan (Kepmendagri No.6/1975
dan 27/1982)
• Kontrak services, dilakukan oleh satu pemerinah
lokal dengan elemen kerja adalah deskripsi
kerja, konpensasi, kinerja pelayanan, asuransi,
prosedur, resolusi konflik, serta pebaharuan
kotrak
• Kerjasama dalam penyediaan infrastruktur
3/1/2008
8
Hal-hal yang diperhatikan dalam
Kerjasama
• Motivasi kerjasama dan komitment
• Dibuat dalam legal form
• Melibatkan semua stakeholder dalam kontrak
• Pengaturan dilakukan secara bersama
(accoutable dan transparan)
• Dapat dilanjutkan dalam format regional,
Regional development approach misalnya TPA,
atau Regional cooperation approach untuk
kebutuhan satu daerah.
Kerjasa Pemerintah-Swasta dalam
Perencanaan IS
Kepres no. 7 tahun1998, intinya
• IS penting untuk pembangunan daerah dan
nasional
• Kemampuan pemerintah terbatas
• Misalnya: transmisi dan perindustrian tenaga
listrik, distribusi gas alam, pengelolaan dan
pengangkutan gas bumi
• Pengelolaan air dan limbah
• Sarana pengangkutan barang dan penumpang
• Jalan, jembatan, dermaga, bandara
3/1/2008
9
Pentingnya Pembangunan Sektor
Pendidikan
• Meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pengelolaan pendidikan
• Diperlukan untuk menjawab tantangan
dan kebutuhan masyarakat sebagai
dampak dari perkembangan kemajuan
IPTEKS, sementara sumberdaya
pendidikan terbatas
Strategi yang diperlukan (Coombs,
1970)
• Perencanaan sistem pendidikan harus melihat
jauh ke depan
• Bersifat menyeluruh dan terpadu
• Merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional di bidang ekonomi dan sosial
• Menekankan peningkatan kualitas pendidikan
• Bagian yang tak terpisahkan dalam proses
manajemen dan sistem pendidikan
3/1/2008
10
Kriteria Perencanaan
Pembangunan Sektor Pendidikan
• Tidak bertentangan dengan kaidah dan keyakinan
agama yang diakui suatu bangsa
• Tidak bertentangan dengan idiologi negara
• Harus didukung oleh kemampuan dan pertumbuhan
ekonomi dan kemampuan finansial suatu bangsa
• Harus dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat
• Mencerminkan sistem nilai yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat
• Tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku
• Dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif
Perencanaan Sektor Industri dan
Pertanian
• Dimensi globalisasi
• Teknorat VS Ekonom
• Pro efisiensi atau Pro nasionalisme
3/1/2008
11
Permasalah dan Tantangan dalam
Pembangunan Pertanian
• Pergeseran struktur ekonomi dan TK
• Penyusutan lahan pertanian produktif
• Penurunan nilai tukar komoditas pertanian
• Rendahnya SDM dan penerapan teknologi
pertanian
• Iklim usaha yang belum kondusif
• Tuntutan pasar global tentang kualitas dan
variasi produk
Perencanaan Pembangunan
Daerah
• Pembangunan daerah merupakan bagian
dari pembangunan nasional
• Perencanaan nasional belum tentu baik
untuk daerah
• Dibedakan apa yang seharusnya
dilakukan dan yang dapat dilakukan
• Menata kelembagaan (administasi, proses
pengambilan keputusan, otoritas)
3/1/2008
12
Sumberdaya Perencanaan
Pembangunan Daerah
• Lingkungan fisik (teori lokasi)
• LIngkungan Regulasi
• Pendekatan Perencanaan (Top-Down-
Butto Up)

                         INDIKATOR PEMBANGUNAN
                              oleh :wisma diama putra

Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, indikator berarti sesuatu yang dapat memberikan (menjadi) petunjuk atau keterangan. Sedangkan pembangunan dapat diartikan sebagai proses, perbuatan, cara membangun.
Kata “pembangunan” secara luas dapat diartikan sebagai berikut:
• Tindakan berkembang.
• The state of being developed. Keadaan sedang dikembangkan.
• A significant event, occurrence, or change. Sebuah peristiwa penting, kejadian, atau perubahan.
• A group of dwellings built by the same contractor. Sekelompok tempat tinggal yang dibangun oleh kontraktor yang sama.
• Determination of the best techniques for applying a new device or process to production of goods or services. Penentuan teknik terbaik untuk menerapkan perangkat baru atau proses produksi barang atau jasa.
• The organized activity of soliciting donations or grants; fundraising. Aktivitas yang terorganisir untuk meminta sumbangan atau hibah; penggalangan dana.
Dilihat dari segi etimologi, konsep pembangunan meliputi anatomik (bentuk), fisiologi (kehidupan), behavioral (perilaku). (Ndraha, 1987 : 1)
Pengertian pembangunan sebagai suatu proses, akan terkait dengan mekanisme sistem atau kinerja suatu sistem.
A. Perlunya Indikator Pembangunan
Paradigma tradisional mengenai pembangunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi. Salah satu definisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah:
“Suatu proses dimana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah ‘garis kemiskinan absolut’ tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Meier, 1995: 7)”
Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertentu yang saling berkaitan dan mempengaruhi. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi. Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: Pertama, perubahan struktur ekonomi, dari pertanian ke industri atau jasa. Kedua, perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri.

Indikator-Indikator Pembangunan
Indikator-indikator keberhasilan pembangunan ada beberapa macam. Secara lebih jelas, Lincolin Arsyad menjabarkan (dalam “Ekonomi Pembangunan” halaman 25), bahwa indikator keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari indikator moneter dan indikator non-moneter. Secara garis besar indikator keberhasilan pembangunan tersebut terbagi dua yaitu indikator moneter dan indikator non-moneter. Yang termasuk kedalam indikator moneter antara lain pendapatan per kapita dan indikator kesejahteraan ekonomi bersih. Sedangkan yang termasuk indikator non-moneter antara lain indikator sosial, indeks kualitas hidup dan indeks pembangunan manusia, dan indikator campuran.
Sedangkan Todaro berpendapat, indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi: (1) indikator ekonomi; (2) indikator sosial. Yang termasuk sebagai indikator ekonomi adalah: GNP (GNI)' per kapita, laju pertumbuhan ekonomi, GDP per kapita dengan Purchasing Power Parity. Yang termasuk indikator sosial adalah HDI (Human Development Index) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup.
B. Indikator Ekonomi
Salah satu indikator ekonomi utama yang digunakan untuk menilai kinerja pembangunan adalah GDP perkapita. GDP perkapita adalah perbandingan antara GDP dengan jumlah populasi penduduk. Dalam penghitungannya digunakan metode Purchasing Power Parity (PPP) riil sebagai alat pengkonversi (dalam dolar AS), karena jika digunakan kurs nominal akan menyebabkan kesalahan dalam melakukan perbandingan kinerja pembangunan antar negara. GDP PPP riil diperoleh dari GDP yang dikonversikan dalam mata uang dolar AS menggunakan metode PPP, sehingga GDP tersebut mempunyai daya beli yang sama dengan dolar di Amerika Serikat. GDP perkapita dengan metode PPP umumnya lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan GDP perkapita dengan kurs nominal.
Melalui indikator GDP perkapita ini Bank Dunia (2003) mengklasifikasikan negara menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Negara berpenghasilan rendah (low-income economies)
Negara-negara ini memiliki GDP perkapita Kurang atau sama dengan US$ 745 pada tahun 2001.
2. Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies)
Kelompok Negara ini memiliki GDP perkapita lebih dari US$ 745 namun kurang dari US$ 8.626 pada tahun 2001. kelompok Negara ini dibagi menjadi :
1) Negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies)dengan GDP perkapita antara US$ 746 sampai US$2.975.
2) Negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GDP perkapita antara US$2.976 sampai US$ 9.025.
3. Negara berpenghasilan tinggi (high- income economies)
Negara di dalam kelompok ini mempunyai GDP perkapita sebesar US$ 9.206 atau lebih pada tahun 2001.
Dalam metode Purchasing Power Parity dikenal dua versi yaitu versi absolut dan versi relatif (Kuncoro, 2001: bab 10).Versi absolut menjelaskan bahwa kurs spot ditentukan oleh harga relative dari sejumlah barang yang sama (ditunjukkan oleh indeks harga).Sedangkan, versi relatif mengatakan bahwa persentase perubahan kurs nominal akan sama dengan perbedaan inflasi di antara kedua negara.


2. GNP (GNI)' per kapita (Publikasi Bank Dunia edisi yang baru menggunakan istilah GNI dan bukan GDP)
Untuk tujuan operasional dan analitikal, kriteria utama Bank Dunia dalam mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu negara adalah GNI (Gross National Income, atau Produk Nasional Bruto) per kapita. GNI perkapita adalah pendapatan nasional bruto dibagi jumlah populasi penduduk. Karena berubahnya GNI per kapita, klasifikasi negara berdasarkan kelompok pendapatannya dapat saja berubah pada setiap edisi publikasi Bank Dunia, terutama dalam World Development Report yang terbit setiap tahun. Bank Dunia (2007) mengklasifikasikan negara berdasarkan tingkatan GNI per kapitanya sebagai berikut:
• Negara berpenghasilan rendah (low-income economies) adalah kelompok negara-negara dengan GNI per kapita kurang atau sama dengan US$ 745 pada tahun 2001.
Negara berpenghasilan menengah (middle-income economies) adalah kelompok negara-negara dengan GNI per kapita lebih dari US$ 745 namun kurang dari US$ 8.626 pada tahun 2001. Dalam kelompok negara berpenghasilan menengah dapat dibagi menjadi: (1) negara berpenghasilan menengah papan bawah (lower-middle-income economies) dengan GNI per kapita antara US$ 746 hingga US$ 2.975; (2) negara berpenghasilan menengah papan atas (upper-middle-income economies) dengan GNI per kapita antara US$ 2.976 hingga US$ 9.205.
Negara berpenghasilan tinggi (high-income economies) adalah kelompok negara-negara dengan GNI per kapita US$ 9.206 atau lebih pada tahun 2001.
Dunia (World) meliputi semua negara di dunia, termasuk negara-negara yang datanya Iangka dan dengan penduduk Iebih dari 30.000 jiwa.
Negara berpenghasilan rendah dan menengah kadang disebut negara sedang berkembang (developing countries). Jelas ini sekedar untuk memudahkan klasifikasi, dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa semua negara dalam kelompok ini mengalami tahapan pembangunan yang sama. Klasifikasi menurut penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD, 1993). Namun pada umumnya, negara sedang berkembang (NSB) memiliki karakteristik yang relatif sama, yaitu: (1) tingkat kehidupannya rendah, dengan ciri penghasilan rendah, ketimpangan distribusi pendapatan tinggi, rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan; (2) tingkat produktivitasnya rendah; (3) pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungannya tinggi; (4) tingkat pengangguran dan setengah menganggurnya tinggi dan cenderung meningkat; (5) ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor produk primer demikian signifikan; (6) dominan, tergantung, dan rentan dalam hubungan internasional (Todaro, 1994: 38-54).

C. Indikator Sosial
Beckerman membedakan berbagai penelitian tentang cara-cara untuk membandingkan tingkat kesejahteraan ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, merupakan usaha membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat di dua atau beberapa negara dengan memperbaiki cara-cara yang dilaksanakan dalam perhitungan pendapatan nasional biasa. Usaha ini dipelopori oleh Colin Clark dan selanjutnya disempurnakan oleh Gilbert dan Kravis.
Kelompok kedua adalah usaha untuk membuat penyesuaian dalam pendapatan masyarakat yang dibandingkan dengan mempertimbangkan perbedaan tingkat harga di setiap negara. Dan kelompok ketiga adalah usaha untuk membuat perbandingan tingkat kesejahteraan dari setiap negara berdasarkan pada data yang tidak bersifat moneter (non-monetary indicators) seperti jumlah kendaraan bermotor, konsumsi minyak, jumlah penduduk yang bersekolah, dan sebagainya. Usaha ini dipelopori oleh Bennet.
Menurut Beckerman, dari berbagai cara di atas, cara yang dilakukan oleh Gilbert dan Kravis adalah cara yang paling sempurna. Cara ini merupakan usaha untuk membandingkan tingkat kesejahteraan dan pembangunan di beberapa negara dengan memperbaiki metoda pembandingan dengan menggunakan data pendapatan nasional dari masing-masing negara.
Untuk memperbaiki kelemahan tersebut, mereka menghitung kembali pendapatan nasional negara-negara Eropa berdasarkan kepada harga-harga di Amerika Serikat. Dengan pendekatan ini maka, pada hakekatnya produksi nasional Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sekarang dinilai menurut harga-harga yang sama. Hasilnya menunjukkan bahwa seperti yang telah dijelaskan di awal, perbedaan pendapatan per kapita penduduk Amerika Serikat dan Eropa tidaklah sebesar seperti yang ditunjukkan oleh perbedaan tingkat pendapatan per kapita mereka yang dihitung menurut cara yang biasa dilakukan.
Namun demikian, cara yang baru ini memerlukan data yang lengkap untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan kembali pendapatan nasional yang dinilai berdasarkan pada tingkat harga-harga di negara lain. Data yang diperlukan tersebut sayangnya tidak tersedia di NSB. Oleh karena itu, Beckerman mengemukakan cara lain dalam membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat di tiap-tiap negara. Cara ini dinamakan Indikator Non-Moneter Yang Disederhanakan (Modified Non-Monetary Indicators).
Dengan cara tersebut, indeks tingkat kesejahteraan dari setiap negara ditentukan berdasarkan kepada tingkat konsumsi atau jumlah persediaan beberapa jenis barang tertentu yang datanya dapat dengan mudah diperoleh di NSB. Data tersebut adalah:
1. Jumlah konsumsi baja dalam satu tahun (kg).
2. Jumlah konsumsi semen dalam satu tahun dikalikan 10 (ton).
3. Jumlah surat dalam negeri dalam satu tahun.
4. Jumlah persediaan pesawat radio dikalikan 10.
5. Jumlah persediaan telepon dikalikan 10.
6. Jumlah persediaan berbagai jenis kendaraan.
7. Jumlah konsumsi daging dalam satu tahun (kg).
Usaha lain dalam menentukan dan membandingkan tingkat kesejahteraan antar negara telah dilakukan pula oleh United Nations Research Institute for Social Development (UNRISD), yang berpusat di Jenewa pada tahun 1970. Dalam penelitian tersebut yang dilakukan adalah menciptakan indeks taraf pembangunan dari negara-negara maju dan NSB berdasarkan kepada sifat dari 18 jenis data berikut di tiap-tiap negara:
1. Tingkat harapan hidup (life expectancy).
2. Konsumsi protein hewani per kapita.
3. Persentase anak-anak yang belajar di sekolah dasar dan menengah.
4. Persentase anak-anak yang belajar di sekolah kejuruan.
5. Jumlah surat kabar.
6. Jumlah telepon.
7. Jumlah radio.
8. Jumlah penduduk di kota-kota yang mempunyai 20.000 penduduk atau lebih.
9. Persentase laki-laki dewasa di sektor pertanian.
10. Persentase tenaga kerja (dari keseluruhan tenaga kerja yang mempunyai pekerjaan) yang bekerja di sektor listrik, gas, air kesehatan, pengangkutan, pergudangan, dan komunikasi.
11. Persentase tenaga kerja (dari keseluruhan tenga kerja yang mempunyai pekerjaan) yang memperoleh gaji.
12. Persentase Produk Domestik Bruto (PDB) yang berasal dari industri-industri pengolahan (manufacturing).
13. Konsumsi energi per kapita.
14. Konsumsi listrik per kapita.
15. Konsumsi baja per kapita.
16. Nilai per kapita perdagangan luar negeri.
17. Produk pertanian rata-rata dari pekerja laki-laki di sektor pertanian.
18. Pendapatan per kapita Produk Nasional Bruto (PNB).
Jika indeks pembangunan yang diusulkan UNRISD tersebut digunakan sebagai indikator kesejahteraan atau pembangunan maka perbedaan tingkat pembangunan antara negara-negara maju dan NSB tidaklah terlampau besar seperti yang digambarkan oleh tingkat pendapatan per kapita mereka masing-masing.

D. Keterkaitan Antar Indikator
Bagaimanakah keterkaitan antara ketiga sasaran pembangunan tersebut Beberapa studi dan kajian menunjukkan beragamnya arah keterkaitan antara ketiga sasaran fundamental tersebut. Hal tersebut menunjukkan keterkaitan antara pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi, dan demokrasi. Pembangun manusia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi baik secara langsu maupun tidak langsung melalui demokrasi. Pengaruh Iangsung pembangunan manusia terhadap pertumbuhan (hubungan 1) dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Bank Dunia (1993) dan Bank Pembangunan Asia (ADB, 1997)