MAKALAH KAPITA SELEKTA
HUJAN BUATAN (TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA)
HUJAN BUATAN (TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA)
OLEH :
WISMA DIAMA PUTRA
55172/2010
JURUSAN PENDIDIKAN
GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
Kata pengantar
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PROSES TERBENTUKNYA HUJAN BUATAN”.Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas perkuliahan Kapita selekta.Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan,yg serta benda-benda lain yang mengandung air. Air-air tersebut umum nya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal. Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (prosespresipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian ujan dapat menguap kembali ke udara. Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.Keadaan suhu di bumi sekarang ini semakin hari semakin panas kita rasakan. Suhu pun tidak stabil. Cuaca yang tidak menentu membuat kehidupan di muka bumi ini terancam.dengan terjadinya proses hujan buatan .membuat udara sedikit lebih meyegarkan.
B.
Rumusan
masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah,
diantaranya :
1. Apa
saja kendala dalam pelasanaan pelaksanaan hujan buatan
2. bagaimana
terhadap hasil pelaksanaan hujan buatan
3. apa
saja manfaat hujan buatan
4. dampak
hujan buatan terhadap lingkungan
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
HUJAN
Hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Hujan juga merupakan siklus air di bumi dan Proses terjadinya dan turunnya hujan dapat dijelaskan sebagai berikut :
·
Mula - mula sinar matahari menyinari
bumi, energi sinar matahari ini mengakibatkan terjadinya evaporasi atau penguapan di lautan, samudra,
sungai, danau, dan sumber - sumber air lainnya.
·
Uap - uap air yang naik ini pada
ketinggian tertentu akan mengalami kondensasi. Peristiwa kondensasi ini
diakibatkan oleh suhu sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun uap
air.
·
Uap - uap air ini kemudian akan
membentuk awan. Kemudian, angin (yang terjadi karena perbedaan tekanan udara)
akan membawa butir - butir air in
·
Butir - butir air ini menggabungkan diri
(proses ini dinamakan koalensi) dan semakin membesar akibat turbelensi udara, butir - butir air ini akan
tertarik oleh gaya gravitasi bumi sehingga akan jatuh ke permukaan bumi.
·
Saat jatuh ke permukaan bumi, butir -
butir air akan melewati lapisan yang lebih hangat di di bawahnya sehingga butir
- butir air sebagian kecil menguap lagi ke atas dan sebagian lainnya jatuh ke
permukaan bumi sebagai hujan.
Inilah yang dinamakan hujan.
Inilah yang dinamakan hujan.
B.
PENGERTIAN
HUJAN BUATAN
Hujan buatan adalah hujan yang dibuat
oleh campur tangan manusia dengan membuat hujan dari bibit-bibit awan yang
memiliki kandungan air yang cukup, memiliki kecepatan angin rendah yaitu
sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya. Ujan buatan dibuat dengan
menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur bibit / seeding ke awan
agar mempercepat terbentuknya awan jenuh. Untuk menyemai / membentuk hujan
deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke awan potensial
selama 30 hari. Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat yang
salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.juhan buatan umumnya
diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang sangat kering akibat sudah
lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu kehidupan di darat mulai dari
sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau kering, tanah
retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain
sebagainya.
Dengan adanya hujan buatan diharapkan
mampu menyuplai kebutuhan air makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat
hidup bahagia dan sejahtera.Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat
menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah
salah satu akibat dari hujan yang berlebihan. Perubahan iklim di bumi
akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga
menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah semestinya membantu
menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak
tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.Media
yang bisa ditempeli uap air contohnya partikel garam di atas lautan yang bisa
menyerap uap air sehingga membentuk kumpulan yang besar. Asap juga bisa sebagai
media untuk berkumpulnya uap air. Bibit hujan ini akan bergerak sesuai dengan
tiupan angin.
C. SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN DIDUNIA
Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai
pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving Langmuir,
dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.Yang sebenarnya
dilakukan oleh manusia adalah menciptakan peluang hujan dan “mempercepat” terjadinya
hujan. Nama yang digunakan sebagai upaya “membuat hujan” dengan menggunakan
cara siklus hidrologi, ada penguapan air, pembentukan awan, dan turun menjadi
hujan. Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan.
D.
SEJARAH
TERJADINYA HUJAN BUATAN DI INDONESIA
Kegiatan hujan buatan di Indonesia atau lebih dikenal dengan modifikasi cuaca dikaji dan diuji di Indonesia pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan presiden soeharto yang di fasilitaskan oleh Frof.Dr.ing.BJ Habibie melalui advance teknologi sebagai embrio badan pengkajian dan penerapan teknologi dibawah eksistensi Frof Devaku dari royal rainmaking Thailand
Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama unit
pelayanan teknis hujan buatan (UPT HB) berdasarkan surat keputusan menteri Negara
riset dan teknologi/kepala badan pengkajian teknologi NO:
SK/342/KA/BPPT/XII/1985 fungsinya adalah memberikan pelayanan dalam hal
meningkatkan intesitas curah hujan sebagai upaya pemerinta dalam menjaga
ketersediaan air pada waduk yang befungsi sebagai sumber daya air dan untuk
irigas dan PLTA.
E.CARA MEMBUAT HUJAN BUATAN
Cara membuat hujan buatan dengan menyemai
awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga
partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.Awan yang
dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu)
yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus
terjadi karena proses konveksi. Awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu(a).
Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; (b).Cumulus, dan
Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung
menjadi satu. (c).Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol,
merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan
hujan buatan Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan
bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga partikel-partikel air
lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.
Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam awan.
Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam awan.
Di
Indonesia, sejak tahun 1998 BPPT dan PT. INCO bekerja sama dengan perusahaan
dari Amerika memakai metode penyemain awan dengan teknologi flare perak
iodida.Dengan teknologi ini, pesawat yang dibutuhkan untuk menemai awan tidak
perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi dengan 24 tabung flare perak
iodida yang di pasang di sayap pesawat terbang dan bak peluncur roket.
Setelah
posisi awan, arah dan keepatan angin diketahui pesawat pun menuju awan
potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan mematik listrik otomatis dari
kokpit pesawat. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.
Bahan
untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu:
1. Bahan
untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI)
2. Bahan
untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan, dikenal dengan higroskopis,
berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.
proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik. Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
a) perubahan
siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau,
bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
b) bisa
terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi
Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa
wilayah. Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali
dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
c) gangguan
penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan
udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
d) gangguan
data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu
atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi
ketersediaan air,
e) gangguan
ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai
(DAS) juga bisa terganggu. Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca
segera dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah
akan terjadi keseimbangan alam.
f) dan
banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya
dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
g) tidak
terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global
F.Proses Pembentukan Awan
Udara
di sekeliling kita banyak mengandung uap air. Tidak terhitung banyaknya
gelembung udara yang terbentuk oleh busa laut secara terus-menerus dan
menyebabkan partikel-partikel air terangkat ke langit. Partikel-partikel yang
disebut dengan aerosol inilah yang berfungsi sebagai perangkap air dan
selanjutnya akan membentuk titik-titik air. Selanjutnya aerosol ini naik ke
atmosfer, dan bila sejumlah besar udara terangkat ke lapisan yang lebih tinggi,
maka ia akan mengalami pendinginan dan selanjutnya mengembun. Kumpulan
titik-titik air hasil dari uap air dalam udara yang mengembun inilah yang
terlihat sebagai awan. Makin banyak udara yang mengembun, makin besar awan yang
terbentuk.
Awan yang dijadikan sasaran dalam
kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan
dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses
konveksi. Secara lebih rinci awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu: Strato
Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb)
yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus
yang bergabung menjadi satu. Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti
bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam
kegiatan hujan buatan
G. Awan Dingin dan Awan Hangat
Berdasarkan
suhu lingkungan fisik atmosfer dimana awan tersebut berkembang, awan dibedakan
atas awan dingin (cold cloud) dan awan hangat (warm cloud). Terminologi awan
dingin diberikan untuk awan yang semua bagiannya berada pada lingkungan
atmosfer dengan suhu di bawah titik beku (< 00C), sedangkan awan
hangat adalah awan yang semua bagiannya berada diatas titik beku ( > 00C).
Awan
dingin kebanyakan adalah awan yang berada pada daerah lintang menengah dan
tinggi, dimana suhu udara dekat permukaan tanah saja bisa mencapai nilai <00C.
Di daerah tropis seperti halnya di Indonesia, suhu udara dekat permukaan tanah
sekitar 20-300C, dasar awan mempunyai suhu sekitar 180C.
Namun demikian puncak awan dapat menembus jauh ke atas melampaui titik beku,
sehingga sebagian awan merupakan awan hangat, sebagian lagi diatasnya merupakan
awan dingin. Awan semacam ini disebut awan campuran (mixed cloud).
H. Proses
Terjadinya Hujan Pada Awan Dingin
Pada
awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang
membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin
(supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi
butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada
awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut
proses kristal es.
Hujan,
salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju
terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh
lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh
tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari
kristal es kecil-kecil.
Sewaktu
udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan
terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada
di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es
kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi.
Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila
menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju
itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.
I. Proses Terjadinya Hujan Pada Awan Hangat
Ketika
uap air terangkat naik ke atmosfer, baik oleh aktivitas konveksi ataupun oleh
proses orografis (karena adanya halangan gunung atau bukit), maka pada level
tertentu partikel aerosol (berukuran 0,01 - 0,1 mikron) yang banyak beterbangan
di udara akan berfungsi sebagai inti kondensasi (condensation nucleus)
yang menyebabkan uap air tersebut mengalami pengembunan.Sumber utama inti
kondensasi adalah garam yang berasal dari golakan air laut. Karena bersifat
higroskofik maka sejak berlangsungnya kondensasi, partikel berubah menjadi
tetes cair (droplets) dan kumpulan dari banyak droplets membentuk
awan. Partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu menebal,
sehingga titik-titik tersebut menjadi lebih berat dari udara, mulai jatuh dari
awan sebagai hujan.
Jika
diantara partikel terdapat partikel besar (Giant Nuclei : GN : 0,1 - 5
mikron) maka ketika kebanyakan partikel dalam awan baru mencapai sekitar 30
mikron, ia sudah mencapai ukuran sekitar 40 - 50 mikron. Dalam gerak turun ia
akan lebih cepat dari yang lainnya sehingga bertindak sebagai kolektor karena
sepanjang lintasannya ke bawah ia menumbuk tetes lain yang lebih kecil,
bergabung dan jauh menjadi lebih besar lagi (proses tumbukan dan penggabungan).
Proses ini berlangsung berulang-ulang dan merambat keseluruh bagian awan. Bila
dalam awan terdapat cukup banyak GN maka proses berlangsung secara autokonversi
atau reaksi berangkai (Langmuir Chain Reaction) di seluruh awan, dan
dimulailah proses hujan dalam awan tersebut, secara fisik terlihat dasar awan
menjadi lebih gelap. Hujan turun dari awan bila melalui proses tumbukan dan
penggabungan, droplets dapat berkembang menjadi tetes hujan berukuran
1.000 mikron atau lebih besar. Pada keadaan tertentu partikel-partikel dengan
spektrum GN tidak tersedia, sehingga proses hujan tidak dapat berlangsung atau
dimulai, karena proses tumbukan dan penggabungan tidak terjadi. .
BABIII
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Proses hujan buatan menyebabkan kenaikan suhu bumi – sehingga mempengaruhi iklim secara global.Hujan buatan juga menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya yang menyebabkan kerugian pada manusia dan makhluk hidup lainnya.seperti :
• Pemanasan global
Proses hujan buatan menyebabkan kenaikan suhu bumi – sehingga mempengaruhi iklim secara global.Hujan buatan juga menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya yang menyebabkan kerugian pada manusia dan makhluk hidup lainnya.seperti :
• Pemanasan global
• Kekeringan terhadap tanaman ,dll
B. SARAN
akhiri hujan buatan karena dalam rangka proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik. Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
akhiri hujan buatan karena dalam rangka proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik. Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
1) perubahan
siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau,
bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
2) bisa
terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi
Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa
wilayah. Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali
dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
3) gangguan
penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan
udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
4) gangguan
data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu
atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi
ketersediaan air,
5) gangguan
ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai
(DAS) juga bisa terganggu. Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca segera
dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah akan
terjadi keseimbangan alam.
6) dan
banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya
dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
7) tidak
terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1999. Laporan Evaluasi Kegiatan Penyemaian Awan/Modifikasi Cuaca di Atas
DAS Riam Kanan
Kalimantan Selatan
Tanggal 08 Oktober
hingga. 06 Nopember 1999. Kerja sama antara PT.PLN WilayahVI dengan UPT Hujan
Buatan BPP Teknologi. Jakarta:
UPT Hujan Buatan BPP Teknologi.Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air.Yogyakarta: BPFE UGM.
UPT Hujan Buatan BPP Teknologi.Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air.Yogyakarta: BPFE UGM.
Reksohadiprodjo, S.,Purnomo
Brodjonegoro, AB,1989. Ekonomi Lingkungan, Suatu
Pengantar. Yogyakarta:
BPFE UGM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar