Kamis, 28 November 2013




MAKALAH KAPITA SELEKTA
HUJAN BUATAN (TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA)















OLEH :

WISMA DIAMA PUTRA
55172/2010











                                             JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
                                                               Kata pengantar


     Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PROSES TERBENTUKNYA HUJAN BUATAN”.Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas perkuliahan Kapita selekta.Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.


                                                           















BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

          Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan,yg serta benda-benda lain yang mengandung air. Air-air tersebut umum nya   mengalami     proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal. Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (prosespresipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.Hujan tidak hanya turun berbentuk air dan es saja, namun juga bisa berbentuk embun dan kabut. Hujan yang jatuh ke permukaan bumi jika bertemu dengan udara yang kering, sebagian ujan dapat menguap kembali ke udara. Bentuk air hujan kecil adalah hampir bulat, Hujan besar memiliki kecepatan jatuhnya air yang tinggi sehingga terkadang terasa sakit jika mengenai anggota badan kita.Keadaan suhu di bumi sekarang ini semakin hari semakin panas kita rasakan. Suhu pun tidak stabil. Cuaca yang tidak menentu membuat kehidupan di muka bumi ini terancam.dengan terjadinya proses hujan buatan .membuat udara sedikit lebih meyegarkan.
                                                                                  
B.     Rumusan masalah

            Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah, diantaranya :
1.      Apa saja kendala dalam pelasanaan pelaksanaan hujan buatan
2.      bagaimana terhadap hasil pelaksanaan hujan buatan
3.      apa saja manfaat hujan buatan
4.      dampak hujan buatan terhadap lingkungan

                                                                    
                                                              









    
BAB II
          PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN HUJAN

 Hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi. Hujan juga merupakan siklus air di bumi dan Proses terjadinya dan turunnya hujan dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Mula - mula sinar matahari menyinari bumi, energi sinar matahari ini mengakibatkan terjadinya  evaporasi atau penguapan di lautan, samudra, sungai, danau, dan sumber - sumber air lainnya.
·         Uap - uap air yang naik ini pada ketinggian tertentu akan mengalami kondensasi. Peristiwa kondensasi ini diakibatkan oleh suhu sekitar uap air lebih rendah daripada titik embun uap air.
·         Uap - uap air ini kemudian akan membentuk awan. Kemudian, angin (yang terjadi karena perbedaan tekanan udara) akan membawa butir - butir air in
·         Butir - butir air ini menggabungkan diri (proses ini dinamakan koalensi) dan semakin membesar akibat   turbelensi udara, butir - butir air ini akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi sehingga akan jatuh ke permukaan bumi.
·         Saat jatuh ke permukaan bumi, butir - butir air akan melewati lapisan yang lebih hangat di di bawahnya sehingga butir - butir air sebagian kecil menguap lagi ke atas dan sebagian lainnya jatuh ke permukaan bumi sebagai hujan.
Inilah yang dinamakan hujan.

B.     PENGERTIAN HUJAN BUATAN
Hujan buatan adalah hujan yang dibuat oleh campur tangan manusia dengan membuat hujan dari bibit-bibit awan yang memiliki kandungan air yang cukup, memiliki kecepatan angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot, serta syarat lainnya. Ujan buatan dibuat dengan menaburkan banyak garam khusus yang halus dan dicampur bibit / seeding ke awan agar mempercepat terbentuknya awan jenuh. Untuk menyemai / membentuk hujan deras, biasanya dibutuhkan garam sebanyak 3 ton yang disemai ke awan potensial selama 30 hari. Hujan buatan saja bisa gagal dibuat atau jatuh di tempat yang salah serta memakan biaya yang besar dalam pembuatannya.juhan buatan umumnya diciptakan dengan tujuan untuk membantu daerah yang sangat kering akibat sudah lama tidak turun hujan sehingga dapat mengganggu kehidupan di darat mulai dari sawah kering, gagal panen, sumur kering, sungai / danau kering, tanah retak-retak, kesulitan air bersih, hewan dan tumbuhan pada mati dan lain sebagainya.
Dengan adanya hujan buatan diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air makhluk hidup di bawahnya dan membuat masyarakat hidup bahagia dan sejahtera.Hujan yang berlebih pada suatu lokasi dapat menimbulkan bencana pada kehidupan di bawahnya. Banjir dan tanah longsor adalah salah satu akibat dari hujan yang berlebihan. Perubahan iklim di bumi akhir-akhir ini juga mendukung persebaran hujan yang tidak merata sehingga menimbulkan berbagai masalah di bumi. Untuk itu kita sudah semestinya membantu menormalkan iklim yang berubah akibat ulah manusia agar anak cucu kita kelak tidak menderita dan terbunuh akibat kesalahan yang kita lakukan saat ini.Media yang bisa ditempeli uap air contohnya partikel garam di atas lautan yang bisa menyerap uap air sehingga membentuk kumpulan yang besar. Asap juga bisa sebagai media untuk berkumpulnya uap air. Bibit hujan ini akan bergerak sesuai dengan tiupan angin.
C.    SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN DIDUNIA
Sejarah Hujan buatan di dunia dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.Yang sebenarnya dilakukan oleh manusia adalah menciptakan peluang hujan dan “mempercepat” terjadinya hujan. Nama yang digunakan sebagai upaya “membuat hujan” dengan menggunakan cara siklus hidrologi, ada penguapan air, pembentukan awan, dan turun menjadi hujan. Sehingga mempercepat peluang terjadinya hujan.

D.    SEJARAH TERJADINYA HUJAN BUATAN DI INDONESIA

      Kegiatan hujan buatan di Indonesia atau lebih dikenal dengan modifikasi cuaca dikaji dan diuji di Indonesia pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan presiden soeharto yang di fasilitaskan oleh Frof.Dr.ing.BJ Habibie melalui advance teknologi sebagai embrio badan pengkajian dan penerapan teknologi dibawah eksistensi Frof Devaku dari royal rainmaking Thailand
Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama unit pelayanan teknis hujan buatan (UPT HB) berdasarkan surat keputusan menteri Negara riset dan teknologi/kepala badan pengkajian teknologi NO: SK/342/KA/BPPT/XII/1985 fungsinya adalah memberikan pelayanan dalam hal meningkatkan intesitas curah hujan sebagai upaya pemerinta dalam menjaga ketersediaan air pada waduk yang befungsi sebagai sumber daya air dan untuk irigas dan PLTA.
    E.CARA MEMBUAT HUJAN BUATAN     

      Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi. Awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu(a). Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; (b).Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin  terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu. (c).Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskop (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.
       Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam awan.
Di Indonesia, sejak tahun 1998 BPPT dan PT. INCO bekerja sama dengan perusahaan dari Amerika memakai metode penyemain awan dengan teknologi flare perak iodida.Dengan teknologi ini, pesawat yang dibutuhkan untuk menemai awan tidak perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi dengan 24 tabung flare perak iodida yang di pasang di sayap pesawat terbang dan bak peluncur roket.
Setelah posisi awan, arah dan keepatan angin diketahui pesawat pun menuju awan potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan mematik listrik otomatis dari kokpit pesawat. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.
Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu:
1.      Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI)
2.      Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir air di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.

                                                                      
                                                                                
proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik.   Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
a)      perubahan siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau, bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
b)      bisa terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa wilayah.  Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
c)      gangguan penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
d)     gangguan data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi ketersediaan air,
e)      gangguan ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) juga bisa terganggu.  Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca segera dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah akan terjadi keseimbangan alam.
f)       dan banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
g)      tidak terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global



F.Proses Pembentukan Awan

Udara di sekeliling kita banyak mengandung uap air. Tidak terhitung banyaknya gelembung udara yang terbentuk oleh busa laut secara terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air terangkat ke langit. Partikel-partikel yang disebut dengan aerosol inilah yang berfungsi sebagai perangkap air dan selanjutnya akan membentuk titik-titik air. Selanjutnya aerosol ini naik ke atmosfer, dan bila sejumlah besar udara terangkat ke lapisan yang lebih tinggi, maka ia akan mengalami pendinginan dan selanjutnya mengembun. Kumpulan titik-titik air hasil dari uap air dalam udara yang mengembun inilah yang terlihat sebagai awan. Makin banyak udara yang mengembun, makin besar awan yang terbentuk.

Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi. Secara lebih rinci awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu: Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh ; Cumulus, dan Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu. Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan


G. Awan Dingin dan Awan Hangat

Berdasarkan suhu lingkungan fisik atmosfer dimana awan tersebut berkembang, awan dibedakan atas awan dingin (cold cloud) dan awan hangat (warm cloud). Terminologi awan dingin diberikan untuk awan yang semua bagiannya berada pada lingkungan atmosfer dengan suhu di bawah titik beku (< 00C), sedangkan awan hangat adalah awan yang semua bagiannya berada diatas titik beku ( > 00C).

Awan dingin kebanyakan adalah awan yang berada pada daerah lintang menengah dan tinggi, dimana suhu udara dekat permukaan tanah saja bisa mencapai nilai <00C. Di daerah tropis seperti halnya di Indonesia, suhu udara dekat permukaan tanah sekitar 20-300C, dasar awan mempunyai suhu sekitar 180C. Namun demikian puncak awan dapat menembus jauh ke atas melampaui titik beku, sehingga sebagian awan merupakan awan hangat, sebagian lagi diatasnya merupakan awan dingin. Awan semacam ini disebut awan campuran (mixed cloud).



 

  H. Proses Terjadinya Hujan Pada Awan Dingin

Pada awan dingin hujan dimulai dari adanya kristal-kristal es. yang berkembang membesar melalui dua cara yaitu deposit uap air atau air super dingin (supercooled water) langsung pada kristal es atau melalui penggabungan menjadi butiran es. Keberadaan kristal es sangat penting dalam pembentukan hujan pada awan dingin, sehingga pembentukan hujan dari awan dingin sering juga disebut proses kristal es.

Hujan, salju dan hujan batu es terutama disebabkan oleh air yang menjadi dingin. Salju terbentuk dalam atmosfer atas yang suhunya dibawah titik beku. Waktu jatuh lewat atmosfer salju mencair dan menjadi hujan. Pada musim dingin, salju jatuh tanpa menjadi cair dan masih berbentuk salju. Butiran salju terdiri dari kristal es kecil-kecil.

Sewaktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah titik-titik air, dan terbentuklah awan. Ketika sampai pada ketinggian tertentu yang sumbunya berada di bawah titik beku, titik air dalam awan itu membeku menjadi kristal es kecil-kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada kristal tadi. Dengan demikian kristal bertambah besar dan menjadi butir-butir salju. Bila menjadi terlalu berat, salju itu turun. Bila melalui udara lebih hangat, salju itu mencair menjadi hujan. Pada musim dingin salju jatuh tanpa mencair.

  I.  Proses Terjadinya Hujan Pada Awan Hangat


Ketika uap air terangkat naik ke atmosfer, baik oleh aktivitas konveksi ataupun oleh proses orografis (karena adanya halangan gunung atau bukit), maka pada level tertentu partikel aerosol (berukuran 0,01 - 0,1 mikron) yang banyak beterbangan di udara akan berfungsi sebagai inti kondensasi (condensation nucleus) yang menyebabkan uap air tersebut mengalami pengembunan.Sumber utama inti kondensasi adalah garam yang berasal dari golakan air laut. Karena bersifat higroskofik maka sejak berlangsungnya kondensasi, partikel berubah menjadi tetes cair (droplets) dan kumpulan dari banyak droplets membentuk awan. Partikel air yang mengelilingi kristal garam dan partikel debu menebal, sehingga titik-titik tersebut menjadi lebih berat dari udara, mulai jatuh dari awan sebagai hujan.

Jika diantara partikel terdapat partikel besar (Giant Nuclei : GN : 0,1 - 5 mikron) maka ketika kebanyakan partikel dalam awan baru mencapai sekitar 30 mikron, ia sudah mencapai ukuran sekitar 40 - 50 mikron. Dalam gerak turun ia akan lebih cepat dari yang lainnya sehingga bertindak sebagai kolektor karena sepanjang lintasannya ke bawah ia menumbuk tetes lain yang lebih kecil, bergabung dan jauh menjadi lebih besar lagi (proses tumbukan dan penggabungan). Proses ini berlangsung berulang-ulang dan merambat keseluruh bagian awan. Bila dalam awan terdapat cukup banyak GN maka proses berlangsung secara autokonversi atau reaksi berangkai (Langmuir Chain Reaction) di seluruh awan, dan dimulailah proses hujan dalam awan tersebut, secara fisik terlihat dasar awan menjadi lebih gelap. Hujan turun dari awan bila melalui proses tumbukan dan penggabungan, droplets dapat berkembang menjadi tetes hujan berukuran 1.000 mikron atau lebih besar. Pada keadaan tertentu partikel-partikel dengan spektrum GN tidak tersedia, sehingga proses hujan tidak dapat berlangsung atau dimulai, karena proses tumbukan dan penggabungan tidak terjadi. .

   














                                            BABIII
                                        PENUTUP

A.    KESIMPULAN

  Proses hujan buatan menyebabkan kenaikan suhu bumi – sehingga mempengaruhi iklim secara global.Hujan buatan juga menimbulkan dampak-dampak negatif lainnya yang menyebabkan kerugian pada manusia dan makhluk hidup lainnya.seperti :
• Pemanasan global
      • Kekeringan terhadap tanaman ,dll




B.     SARAN
       akhiri hujan buatan karena dalam rangka proses hujan buatan hanya diuntungkan jangka sementara, tetapi kerugian akan ditanggung oleh daerah sekitarnya dalam menerima dampak negatif akibat percobaan modifikasi cuaca itu. Secara mendalam dampak hujan buatan terhadap sumberdaya air, ekosistem DAS, dan lingkungan atmosferik.   Beberapa dampak yang muncul antara lain ialah :
1)      perubahan siklus hidrologi tentu akan membahayakan pasokan air tanah di musim kemarau, bisa terjadi di musim kemarau yang akan datang mengalami defisit air tanah,
2)      bisa terimbas adanya “kekacauan iklim”, artinya dalam jangka panjang kalau Teknologi Modifikasi Cuaca dilakukan secara menerus, terjadi perubahan iklim di beberapa wilayah.  Alasannya, karena pola musim hujan di indonesia selalu diawali dari arah barat ke timur (musim barat) yang membawa hujan,
3)      gangguan penerbangan karena ada gangguan pola awan yang kemungkinan terjadinya golakan udara (turbulensi) yang semakin banyak terjadi,
4)      gangguan data seri hujan rata-rata bulanan yang dapat mengganggu analisis deret waktu atau analisis kecenderungan untuk prediksi kekeringan, banjir, dan prediksi ketersediaan air,
5)      gangguan ekosistem danau, waduk, dan bahkan lingkungan tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) juga bisa terganggu.  Jadi ada baiknya kebijakan Modifikasi Cuaca segera dihentikan, tidak mengapa hujan jatuh di musim hujan ini, secara alamiah akan terjadi keseimbangan alam.
6)      dan banyak nya biaya yang habis dalam pembuatan hujan buatan alangka baiknya dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan.
7)      tidak terjadinya kekeringan terhadap tanaman dan pemanasan global

















DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Laporan Evaluasi Kegiatan  Penyemaian Awan/Modifikasi Cuaca di Atas
DAS Riam Kanan Kalimantan Selatan
Tanggal 08 Oktober hingga. 06 Nopember 1999. Kerja sama antara PT.PLN WilayahVI dengan UPT Hujan Buatan BPP Teknologi. Jakarta:
UPT Hujan Buatan BPP Teknologi.Dumairy, 1992. Ekonomika Sumberdaya Air.Yogyakarta: BPFE UGM.
Reksohadiprodjo, S.,Purnomo Brodjonegoro, AB,1989. Ekonomi Lingkungan, Suatu
Pengantar. Yogyakarta: BPFE UGM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar