Jumat, 15 Juni 2012
MENANTI SEBUAH CINTA YANG TAK PASTI DAN SUARA HATI YANG TAK PASTI
*** Hati Yang Selalu Tersakiti ***
****
Disusun
Oleh:
Wisma Diama Putrai
“Bima
Membara”
Inginku berjalan di atas puing-puing cinta yang pernah engkau berikan kepadaku, tapi apakah engkau sanggup untuk menatap mataku disaat aku lagi butuh teman untuk curhat. Saat aku
mulai mencintai dan menyayangimu malah engkau membuat hati ini jadi terbakar seperti api yang tidak
bisa dipadamkan oleh siapapun. Setiap saat aku selalu merenungi dengan segala
kesalahanku, mungkin ada kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu, sehingga engkau tidak
pernah menghargai perasaan yang begitu tulus yang aku berikan kepadamu, apabila aku pernah melakukan sedikit kesalahan terhadapmu,
maka katakanlah kepadaku dan jangan biarkan aku malah bertambah bingung dengan
perasaan ini.
Seandainya engkau pernah memikirkan tentang perasaanku
yang begitu tulus, mungkin engkau tidak akan melakukan suatu hal yang membuat
hati ini jadi sakit, dan aku pikir
itu sudah pasti. Tetapi, bagaimana dengan perasaan seseorang apabila kita
sering memperlakukan dengan hal-hal yang tidak baik. Apakah orang itu tidak sakit hati, ketika orang itu telah mengambil semuanya
darimu bahkan harta yang engkau miliki pun diambil olehnya, aku rasa semua
orang pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan pada saat ini. Batin ini selalu tersiksa dengan perasaanmu
yang tidak karuan padaku. Sampai kapankah aku menanggung penderitaan yang
sangat pahit
ini, dan kapankah penderitaan ini
akan berakhir, kapankah aku merasakan suasana ini menjadi tenang.
Aku selalu
bersabar dan bersabar untuk
menghadapi setiap masalah yang menghampiriku. Ingin aku katakan kepada semua
orang tentang bagaimana bentuk permasalahan yang
aku hadapi, apakah dengan aku mengatakan kesemua orang masalah ini hatiku akan bisa lebih tenang, aku rasa ini hal yang sangat aneh
kawan-kawan. Baru kali ini aku benar-benar merasakan bagaimana sih…. menjalin sebuah tali
percintaan itu untuk lebih serius, ternyata sekarang aku merasakan betapa
sakitnya perasaan ini. Detik demi detik kaki ini melangkah kearah pintu
rumahnya. Namun, entah mengapa aku merasakan bahwa hari ini aku akan berpisah
dengan dirinya. Kenapa hidup di dunia ini harus ada kata perpisahan, pada hal
kehidupan ini sangat indah apabila tidak ada yang namanya kata perisahan.
Baru kali ini aku juga merasakan kepahitan dalam menjalin suatu hubungan yang
lebih serius, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan dulu. Dulu aku
membayangkan, kalau
waktunya tiba aku ingin menjalin suatu hubungan yang lebih serius dan harmonis. Ingin aku mencari solusinya
bagaimana masalah ini supaya cepat terselesaikan, karena aku juga sangat sayang
sama dirimu, bahkan aku punya niat untuk membuatm u selalu hidup bahagia denganku. Namun, niatan
itu ternyata sia-sia, bahkan ketika kita duduk berdua pun engkau sering mengatakan hal-hal yang sangat aneh
engkau ucapkan kepadaku, seperti “kalau memang kita jodoh kita pasti akan ketemu kok”,
kata-kata seperti inilah yang tidak mau aku dengar dari siapapun yang mengucapnya.
Jodoh itu memang Allah yang mengaturnya, dan ini perlu digaris bawahi oleh kita
semua “maksud dan tujuannya itu adalah apabila salah satu di antara kita telah mendapatkan seseorang yang benar-benar
kita menggapnya baik dan serasih dalam hidup kita maka ikatlah dia melalui tali perkawinan,
dan kita harus berusaha dan berdoa kepada Allah supaya kita mendapatkan keluarga yang bahagia.
Kadang teman-temanku sering bilang bahwa “kita sebagai laki-laki tidak boleh cengeng
dan masih banyak wanita yang lebih baik dari dia, kenapa kamu harus kaya gini. Kamu harus bangkit
apalagi kamu itu seorang laki-laki yang baik dan penuh dengan kesabaran dalam
menghadapi setiap permasalahan, dan lawanlah semua perasaan itu dan aku yakin
kamu pasti bisa kawan”. Tetapi bagaimana dengan perasaan ini? sedangkan aku sangat menyayangi dia, dan seandainya aku berpisah sama dia, apakah
aku mampu untuk menerima semua kenyataan yang sangat pahit ini. Bagiku, aku tidak sanggup untuk
menerimanya. Memang kenyataan ini sangat pahit bagiku, karena hatiku selalu
disakiti sama dia, tapi aku selalu bertahan dan bersabar untuk menghadapinya, mungkin
ini sebuah cobaan dari Allah yang diberikan kepadaku, sekaligus untuk menguji
sampai di manakah rasa keimananku. Hhhhheemmm…… hati ini memang terasa sakit bahkan
getarannya pun akan terasa
di dalam jiwaku, bagaikan terombang ambing di atas lautan yang penuh dengan keguncangan.
Kenapa semua ini bisa terjadi padaku, dan kenapa dari
awal engkau tidak jujur atas semua ini, kenapa disaat aku menutup pintu hatiku
untuk orang lain engkau malah membiarkan aku seperti binatang jalan, kemana
harusku bawa semua penderitaan yang aku rasakan yang tiada henti-hentinya, kenapa semua ini bisa terjadi. Untuk apa kita menjalin sebuah
hubungan kalau memang akhirnya kaya begini, bahkan aku tidak bisa berbuat
apa-apa ketika aku mengantarkan dirimu ke rumah calon suamimu, sekarang hatiku
sangat tersiksa oleh janji-janji palsu yang pernah kau ucapkan kepadaku, tak bisa kubayangkan betapa pedihnya
perasaan ini.
Memang hidup ini tidak bisa kita melawan dengan hal-hal
kekerasan, andai saja aku bisa melawan hidup ini dengan kekerasan, maka tak akan ku biarkan hal ini terjadi
kepada dirimu.
Untuk apa bersumpah dengan kata-kata yang penuh dengan kebohongan, pada hal engkau tahu apa yang harus engkau lakukan, dan kenapa aku harus menjadi korbannya, kenapa bukan orang lain saja yang kan menjadi
korbannya,
haruskah aku menanggung semua rasa sakit ini. Awalnya aku tak yakin dengan apa
yang terjadi pada dirimu, aku kira apa yang engkau katakan itu cuma main-main
saja. Namun, setelah engkau menjelaskan semuanya kepadaku, jiwa ini langsung terasa lemas dan tak berdaya lagi. Apa lagi di tambah dengan rasa sedih yang tak
ada bandingannya. Ya
Allah, kenapa semuanya harus terjadi, berikanlah
ketabahan dalam dirinya untuk menjalani sebuah kehidupan baru bersama laki-laki
yang ia pilih ya Allah, aku selalu mendoakan atas kepergianmu semoga engkau diberikan taufik
dan hidayah dalam membangun sebuah kehidupan baru bersama suamimu, walaupun aku tidak bisa memilikimu, namun cintamu selalu aku bawa kemanapun aku pergi, meskipun hati ini sulit untuk
melupakanmu.
Aku sangat terharu melihat kepergianmu, ingin aku teriak sekencang-kencangnya. Namun, aku pikir percuma aku teriak sedangkan orang yang paling aku cintai sudah menjadi milik orang lain.
Mungkin ini sudah saatnya kita menjalani hidup kita masing-masing, meskipun aku sulit untuk melupakan kenangan-kenangan yang pernah kita lalui bersama. Namun, aku tetap
berusaha untuk melupakan semuanya, dan kenapa hati ini selalu saja kau sakiti, apa sebenarnya salah ku sehingga aku menanggung semua penderitaan yang engkau berikan kepadaku. Aku benar-benar tidak sanggup untuk melawan semua rasa sakit ini. Semua orang yang bilang sama aku, kenapa kamu harus menangisi dengan orang
yang tidak perduli dengan perasaanmu, dan seharusnya kamu itu tahu diri bahwa
orang yang kamu cintai
itu sudah menjadi milik orang lain dan tak mungkin dia kembali lagi dalam pelukanmu. Coba kamu pikirkan dengan apa
yang telah terjadi. Hm,,,,,hm..... mungkin bagi orang lain mudah untuk
melupakannya. Tapi hatiku sangat sulit untuk melupakan kenangan-kenangan yang
pernah aku lalui bersamamu.
Selamat jalan dan selamat menempuh hidup baru semoga
engkau selalu bahagia bersama laki-laki yang engkau pilih. Laksana cahaya,
kehadiran agama di muka bumi tak lain dan tak bukan untuk menjadi penerang
manusia dalam “Titian Ilahi” jalan kehidupan. Jalan kehidupan itu sendiri sebuah hutan
lebat, lagi gelap gulita yang penuh dengan jebakan-jebakan. Karenanya, berjalan
tanpa cahaya hampir bisa dipastikan manusia akan jatuh terperosok dalam sebuah kegelapan. Agama disimbolkan sebagai yang
suci, mengajak manusia berjalan menuju yang suci pula, agama senantiasa mensuci kan manusia. Bukan lantaran manusia sebelumnya, belum suci. Justru agama berusaha untuk
terus mempertahankan kesucian manusia dan selalu mengingatkan manusia akan
kesucian dirinya.
Tujuan dari agama diantaranya adalah mensucikan jiwa dan
membersihkan hati. Lahirnya jiwa yang setia dan taat menimbulkan perasaan
mengagungkan tuntunan dan menetapkan kebaikan di muka bumi ini atas dasar kenal
lagi erat, yaitu mempererat hubungan manusia dengan Tuhan yang mengetahui
segala rahasia hatinya. “sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya. (QS. As-Samsy, 91 ayat.
9-10)”.
Apapun yang dapat kita lakukan oleh orang yang saling bermusuhan atau saling membenci, maka
pikiran yang diarahkan secara salah akan melukai seseorang lebih besar. Kekosongan tidak
berpegang pada substansi dan khayalan adalah sebuah embun yang telah hilang ketika matahari terbit.
Ia pergi sambil menutup mata. Kehidupan yang didasari
prinsip keadilan beberapapun harganya bukan karena suatu kehidupan yang
dijalani dengan baik, tidak adanya manfaat untuk memecahkan masalah, justru
peperangan telah menjadi bencana baik bagi yang kalah maupun yang menang.
Bahkan semakin jelas dalam perang dunia modern, apabila telah berkecamuk tidak
akan ada yang kalah dan menang, tapi yang akan terjadi adalah lenyapnya
peradaban dan tertundanya jarum jam kemajuan yang untuk ini manusia telah
menumpahkan banyak keringat, air mata dan darah yang selalu berlinang di atas
pipi yang tak berwarna lagi.
Cinta yang menghilangkan segala kerisauan dan kegundahan
diri yang selalu menghantui. Dalam cinta ini tak lagi penting, siapa diri kita
sebenarnya. Karena semua konsentrasi hanya terfokus untuk melihat Tuhan. Tak
ada lagi rasa kerisauan apakah diri kita akan masuk neraka atau surga. Bahkan itu juga belum tentu kita dapatkan
semuanya, Karena
yang ada hanyalah keinginan untuk terus maju tuhan-Nya. Inilah tawuran cinta
yang menggetarkan itu, cinta semerbak, yang wanginya menusuk ke dalam reluang
hati orang-hari orang barat. Namun, cinta yang
sesungguhnya adalah ma nifestasi ajaran
islam murni. Dalam cinta ada kerinduan, dan penyebutan atas nama yang
dirinduinya merupakan salah satu ekspresi memuaskan rasa rindu itu. Seperti
inilah yang dinamakan cinta sejati, bukan karena kita mengharapkan sesuatu yang bisa memuaskan hawa nafsu kita, cinta yang seperti
inilah yang dilarang sama Allah.
Telahku tinggalkan rasa cemburu di sudut kamar
gelap, telahku hanyutkan rasa duka ini pada sungai kecil yang mengalir dari mataku, telah
kukabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hatiku, yang terhampar ditiap
jengkal sajadah dalam tahajut dan sudut panjangku. Saat cinta berpaling dariku,
jika kau kira dengan sebelah sayap aku akan terkoyak, maka camkanlah dengan
sebelah sayap itu, akanku jelajah gunung bahkan ombak-ombak samudra dan
gemintang diangkasa. Aku harus menjaga otakku agar tetap sehat, waras, sebab
dibutuhkan untuk mengatur strategi agar bisa keluar dari situasi buruk ini.
Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian
bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan
gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur
masa depan yang belum terjadi.
Tepat ketika aku berjuang melawan rasa sakit
karena melahirkan, bahkan aku sempat berpikir, barangkali sebaiknya aku mati
saja. Dengan begitu selesailah semua penderitaan yang kurasakan. “Momen kecil yang meninggalkan jejak”
jejak kecil yang kau tinggalkan, melemparkanku pada keajaiban penuh dengan
makna dan dengan segala cinta yang ku punya, kubiarkan angan kita mengembara.
Tahukah cinta betapa cantiknya engkau dan
berseri-serinya, wajahmu pada malam itu? saat kau minta maaf padaku. Telah tiba
saatnya untuk pergi maka berhati-hatilah dan waspadailah segala, jangan terlena
dengan hari ini atau hari esok, betapa banyak orang terlena dan jatuh dalam
bahaya, semata-mata karena kita tidak kontrol dengan apa yang kita kerjakan
semasih kita hidup.
Di kesepian malam aku sendiri, pikiran menerawang menjelajah angkasa, Ingin
rasanya kubuka semua tabir gelap. Sehingga bisa kunikmati indahnya rembulan
beserta gemerlapnya selaksa bintang.. Semilir angin berhembus perlahan-lahan,,
seolah-olah tak ingin mengusikku dari lamunan yang selalui menghantuiku.
Pucuk-pucuk daun menari penuh dengan kemesraan, seakan-akan tiada bosan untuk
selalu menghibur semua gundah dan keresahan hatiku. Ketika malam semakin larut,
Aku sadari akan kesendirianku, semuanya memang penuh ketidakpastian Kecuali….
Bisa kunikmati sisa hidup ini dengan
cinta dan kasih sayang yang pernah engkau berikan padaku. Di mana semuanya
serba tulus dan di mana semuanya serba ikhlas, di mana semuanya penuh kerelaan tanpa
pamrih dan pengharapan.
Andai saja ada kehidupan yang akan datang “aku ingin berubah menjadi tanaman bunga” yang tiap hari engkau siram. Tanaman bunga
bukanlah selalu ada di depan rumahmu, tidak akan berubah menjadi rerumputan
yang selalu diinjak oleh setiap orang. Adik jika engkau ingin bertemu dengan
aku, keluarlah di halaman rumahmu dan siramlah bunga-bunga yang ada dalam
tanamanmu, karena pada saat engkau siram
bunga-bunga itu, maka bunga yang akan mulai layu pun akan kembali segar.
Jika benar ada kehidupan yang akan datang, aku berharap dapat sama seperti
tanaman bunga yang ada ditepi rumahmu, senantiasa di tempat yang sama, tidak
ingin berpisah dengan siapa pun….!!!!!!!
Hati ini benar-benar aneh, kenapa sampai sekarang aku belum bisa
melupakanmu, ingin sekali aku melupakan dirimu. Tapi aku tidak mampu untuk
membuang semua perasaan ini. Wajahmu selalu terbayang ke mana pun aku pergi,
dan bahkan ketika aku masuk di dalam kamarku, dirimu seakan-akan ada di tiap
sudut kamarku. Kini engkau sudah memasuki sebuah kehidupan yang baru, aku
selalu menangis ketika aku melihat engkau yang lagi bersedih, buatlah dirimu
semangat dalam menjalani sebuah proses kehidupan yang baru.
Aku ingin menyampaikan sedikit nasehat terhadapmu, karena sesuai dengan
ajaran islam dalam menjalani proses kehidupan dalam berumah tangga itu sangat
sulit untuk kita laksanakan. Oleh sebab itu aku ingin engkau selalu bersabar
dalam menghadapi kehidupan ini, aku ingin dirimu rajin-rajinlah melaksanakan salat dan berdoalah kepada Allah supaya engkau
diberikan keselamatan dalam dunia dan akhirat. Seperti yang diuraikan oleh
rasulullah SAW, yang artinya “Sampaikanlah
kepada kaum wanita yang anda jumpai bahwa ketaatan istri terhadap suami dan mau
mengakui haknya adalah sebanding dengan
(jihad) itu, tetapi sedikit sekali kaum wanita yang mau melakukannya”. Allah
tidak sudi memandang wanita yang tidak mensyukuri suaminya, pada hal ia selalu
membutuhkannya.
Janganlah engkau menampakkan perhiasanmu, kecuali kepada suami suamimu,
atau kepada ayahmu, atau ayah suamimu, atau putra-putramu dll. Wanita-wanita
islam, atau budak-budak yang engkau miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang
tidak mempunyai keinginan (terhadapa
wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
(An-Nuur:31). “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah maha mengetahui dengan apa yang mereka lakukan.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
meraka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan
perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya.” (Al-Ahzab: 32).
“Wahai Adikku. Kini kau
meninggalkan tempat kau dilahirkan, kau meninggalkan hidup, tempat engkau
ditempa. Kalau saja seorang wanita boleh tidak membutuhkan seorang suami
dikarenakan kedua orang tuanya kaya dan kedua orang tuanya amat membutuhkannya,
niscaya aku adalah orang yang paling tidak membuthkannya. Namun, wanita
diciptakan untuk pria. Demikian pula, pria diciptakan untuk wanita.”
Artinya, wahai Adikku, kini kau
telah meninggalkan udara tempat engkau dilahirkan. Kau meninggalkan hidup,
tempat engkau dibesarkan, menuju hutan belantara yang asing yakni, keluarga
yang tak kau kenal. Di sini, kau bertugas mengawasi miliknya. Untuk itu,
jadilah kau orang yang memegang amanah, sehingga suamimu akan menjadi hamba
yang baik. Simpanlah sepuluh hak yang menjadi rahasianya.
Pertama, dan kedua, adalah tunduk
kepadanya dengan cara qana’ah.
Mendengar dan taat baik-baik.
Ketiga, dan keempat, jagalah
pandangan mata dan penciuman hidungnya,
sehingga ia tidak akan pernah memandangmu disaat engkau dalam keadaan tidak
enak dipandang. Demikian pula, ia harus mencium hanya aroma sedap saja dari
dirimu.
Kelima, dan keenam, jagalah jam
tidur dan jam makan suamimu. Sebab, rasa lapar dan ngantuk bisa membuatnya
marah.
Ketujuh, dan kedelapan, jagalah
harta bendannya dan lindungilah keluarganya. Yang pertama, dengan cara membuat
perhitungan yang tepat bagi kebutuhan yang ada. Sedangkan untuk yang kedua,
dengan cara mengatur secara baik.
Kesembilan, dan kesepuluh,
janganlah melanggar perintahnya. Janganlah menyebarluaskan rahasianya. Sebab,
jika melanggar perintahnya, berarti anda menyakiti hatinya, sedangkan jika
menyebarluaskan rahasianya yang semestinya dijaga, berarti anda tidak berlaku
amanah. Kemudian janganlah anda bersenang-senang di saat suami sedang gundah
gulana, sebaliknya, jangan nampak murung di saat ia sedang berbahagia.
“Duhai Adikku,
Kini kau memasuki hidup baru. Tak
seorang pun juga; baik ibu, ayah maupun saudaramu, bisa ikut campurtangan. Di
sini, kau menjadi teman bagi suamimu, yang tidak ingin dicampuri oleh orang
lain, walaupun bagian dari daging atau darahmu sendiri.
“Duhai
adikku,
Jadilah kau sebagai istri
sekaligus ibu dari suamimu. Buatlah ia merasa bahwa kau adalah segalanya dalam
hidup dan dunianya. Ingatlah selalu, bahwa pria manapun juga, sedikit saja
kata-kata manis bisa membahagiakannya. Janganlah membuat ia merasa bahwa dengan
menikah denganmu berarti ia telah menghalagimu dari keluargamu. Perasaan semacam
ini, dibencinya. Sebab, ia juga meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan
meninggalkan keluarganya demi dirimu. Namun, perbedaan antara dirimu dan dia
adalah perbedaan antara pria dan wanita. Wanita selalu merindukan keluarga dan
rumahnya tempat ia dilahirkan, tumbuh berkembang, dewasa dan belajar, tetapi
harus membiaskan dirinya ke dalam kehidupan baru ini. Engkau harus menyusaikan
kehidupanmu dengan seorang pria yang menjadi suamimu, pelindung sekaligus ayah
dari anak-anakmu. Inilah dunia barumu.
“Duhai Adikku,
Inilah masa kini dan masa
depanmu, itulah keluargamu yang engkau bangun bersama suamimu. Aku tak
memintamu untuk melupakan ayah, ibu dan saudaramu, karena selamanya mereka
takkan melupakanmu. Sebab, bagaimana mungkin seorang ibu yang melahirkanmu,
akan melupakan belahan jiwanya. Namun, yang kupinta, kau haruslah mencintai
suamimu. Hidup dan berbahagialah bersamanya.
“Ya Allah berilah mereka rezeki karena aku, dan berilah aku rezeki
karena meraka. Berilah aku cinta dan kasih meraka, dan berilah meraka cinta dan
kasihku. Buatlah kami saling menyintai.”
Aku mengucapkan banyak-banyak
terima kasih kepadamu, karena selama ini kau telah memberikan sedikit
kebahagianmu kepadaku, meskipun akhirnya kita saling berpisah. Aku harap kau
bisa menerima apa yang aku tulis ini dan sekaligus ini akan menjadi rahasia
dalam kehidupanmu. Ku goreskan pena ini dengan mencucurkan air mata sebagai
pertanda bahwa cinta suciku kapadamu akan selalu terkenang kemanapun aku pergi,
karena bagiku kau adalah segala-galanya untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar